Thursday, November 30, 2017

Architects Under Big 3 91 - Poro(city): The Importance of Permeable Building

Architects Under Big 3 91 - Poro(city), The Importance of Permeable Building

Di Asia, khususnya Indonesia, kita banyak menemukan kasus dimana lingkungan dan ruang publik digantikan oleh bangunan pribadi, atau bangunan untuk kepentingan golongan tertentu. Bangunan tersebut seringkali dibangun tanpa perencanaan yang mempertimbangkan lingkungan, menyebabkan hilangnya fungsi dari elemen kota seperti ruang hijau maupun sungai. Hal ini akan berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat maupun terhadap keberlanjutan kota tersebut.

Untuk meraih kota yang benar-benar “sustainable”, kita sebagai arsitek dituntut untuk bisa menemukan cara baru untuk menciptakan bangunan yang bersinergi dengan kota. Suatu bangunan pasti berada di tengah sistem perkotaan yang luas, yang memiliki jaringan energi dan air, keanekaragaman hayati, jaringan habitat, ruang publik dan sosial. Ketika salah satu atau beberapa sistem jaringan tersebut terdegradasi akibat pembangunan asal-asalan yang merajalela, kota dan penduduknya menderita. Bangunan yang baik adalah bangunan yang memberi dampak baik ke sistem jaringan kota dan lingkungannya, atau paling tidak menggantikan apa yang hilang dari lingkungan tersebut.

Dalam proses perancangan PORO(CITY), kami memiliki tujuan menciptakan bangunan yang secara ekonomi “profit making” namun dirancang secara terencana untuk menghubungkan atau memperbaiki sistem di mana mereka tertanam. Bangunan yang secara sistem bekerja seperti sponge, menyerap dan mengeluarkan kembali hasil resapan air untuk digunakan kembali. Bagaimana kita memfasilitasi kebutuhan masyarakat berbagai kalangan, kebutuhan ekonomi kota, sembari memperbaiki lingkungan dan ekosistem yang ada. Bukan sekedar merancang mall atau high rise mixed use yang dibangun dengan hanya memikirkan segi pendapatan ekonominya saja, tanpa memikirkan kualitas hidup masyarakat kota itu sendiri.

Tentang Pembicara :

Kiri ke Kanan, Fadhil Hafizh Sadewo, Inas Raras Maheningtyas, Asmita Puspasari, M. Ridho Kharisma Putra, dan Bimo Wicaksana

Inas Raras Maheningtyas dan tim yang terdiri dari Asmita Puspasari, M. Ridho Kharisma Putra, Bimo Wicaksana, dan Fadhil Hafizh Sadewo merupakan lulusan Arsitektur ITB 2016-2017. Pada masa kuliah mereka sering berkolaborasi dalam beberapa proyek dibawah himpunan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB. Setelah selesai menyelesaikan Tugas Akhir, mereka memutuskan untuk bergabung menjadi sebuah tim untuk mengikuti kompetisi FuturArc 2017 yang bertema An Architecture for Common Good untuk menyalurkan minat dan concern-mereka terhadap arsitektur dan lingkungan, terutama terhadap kota Bandung tempat mereka kuliah selama 4 tahun. Dan mereka berhasil meraih penghargaan sebagai 1st Winner FuturArc 2017 pada Student Category.


Inas Raras Maheningtyas lahir di Jakarta, 3 Oktober 1994 merupakan ketua dari tim ini. Sejak lulus di akhir tahun 2016, Inas Raras bekerja di Adria Yurike Architects sebagai junior architect. Sejak kuliah Raras sangat aktif dan mendapatkan beberapa certification dan accreditation antara lain Top 100 Candidate for Djarum Foundation Scholarship Selection, meraih sertifikasi completing program requirement of Autocad2012 Certified Associate, meraih beasiswa untuk Excellent Academic Achievement Scholarship Program, dan pada oktober 2017 lalu menjadi 2ND Winner of Propan “Restoran Nusantara” Design Competition Destinasi Morotai yang diadakan oleh Kemenpar.

Asmita Puspasari, lahir pada tanggal 17 Juni 1994, saat ini bekerja sebagai Arsitek Junior di PT. Urbane Indonesia. Sebelum bekerja, Asmita pernah menjalani magang di beberapa tempat antara lain Luwist Space (2015) dan Akanoma Studio (2016). Selain itu Asmita juga aktif menjalani hobinya yaitu videografi dengan menjadi Story Director di Bandung Bicycle Club sejak 2015 hingga saat ini. Asmita juga sering mengikuti beberapa kompetisi arsitektur dan menjadi top 5 Finalist Mortar Utama Tropical House Competition dan top 25 Finalist OISTAT Theatre Architecture Competition.

M. Ridho Kharisma Putra, kelahiran Surabaya, 13 Januari 1995, lulus kuliah dengan predikat cum-laude pada tahun 2017. Ridho pernah mengikuti beberapa kompetisi arsitektur dan menjadi top 10 Finalist Rumah Intaran Wooden House Design Competition 2013. Ridho juga pernah mengikuti program Open Studio oleh Ara Studio tentang Analyzing Urban Context of Surabaya Old City dan pernah magang di konsultan arsitektur Mamostudio. Saat ini Ridho sedang menjalani magang di divisi Urban Design di PDW dan mengerjakan proyek freelance bersama Fadhil.

Bimo Wicaksana, lahir di Semarang pada 1 April 1995, lulus kuliah pada tahun 2017 dan saat ini bekerja sebagai Junior Urban Designer di PDW di Jakarta. Bimo yang mempunyai hobi di dunia desain grafis, fotografi, dan videografi, pernah magang di Budji + Royal Architecture + Design Filipina pada divisi arsitektur dan CPG Consultan Pte Ltd Singapura pada divisi urban planning. Bimo juga pernah mengikuti beberapa sayembara arsitektur dan menjadi top 12 Finalist Rumah Intaran Wooden House Design Competition 2013, Top 15 Finalist Escape House Design Competition by Wismakharman Expo 2016, dan top 5 Finalist Provident Residential Mid End House Design Competition.


Fadhil Hafizh Sadewo, lahir di Surabaya, 27 Februari 1994, lulus dengan predikat cum-laude pada tahun 2017 dan melanjutkan kerja sebagai Arsitek Junior di Design Alliance Workshop (DAW) di Jakarta. Pada masa kuliah, Fadhil mendapatkan prestasi sebagai Most Favorite Final Project Architecture ITB. Fadhil pernah mengikuti beberapa kompetisi arsitektur dan saat ini mengerjakan proyek freelance bersama Ridho.

Thursday, November 9, 2017

Architects Under Big 3 90 - Sustainable Design in Indonesia and Japan, Norihisa Kawashima and Popo Danes

Picture 1 From left to right, Moderator, Popo Danes, and Norihisa Kawashima on AUB 90

In the 90th AUB, we had a very insightful presentation from a bright young architect from Japan, Mr. Norihisa Kawashima. Norihisa works as professor assistant in Tokyo Institute of Technology while at the same time running his architect firm,
Nori Architects.Previously Mr. Norihisa took his education in Tokyo University and the University of Tokyo's Graduate School and continues his career for 7 years (2007 – 2014) in Nikken Sekkei Ltd. His focus was mainly designed a building with a computational method.

From the beginning, Norihisa stated if he wanted to make a design that able to connect the nature with the human but at the same time also could possible to give comfort to the user of the building with maintaining the beauty of the space and looks of the building. He saw if most buildings in Bali are already give the sense of connection to nature. However in Japan, the condition is totally different, since the climate is totally different which make building tend to be more closed and made the missing connection between nature and human. In order to achieve his purpose, he had dedicated his time to study on how to optimize the natural features such as: daylight, wind and humidity with good design through computational method.

At first, Norihisa told his first assigned project for himself, house BB. This house was located in Tokyo.  He made sure if the building get enough sunlight and good wind exposure through the simulation placement of the building mass using computer. Computational method also made him able to determine the best option for the building form. He also told if good insulation to keep the temperature in the range of human comfort is achieved through using floating structures and certain composition of material inside the wall. At the same time, the free space in the ground level give spacious space that create connection between the building and surroundings which could be used as outdoor gathering space and & children play area 


Picture 2 Norihisa Kawashima Explaining about 
his projects and design thinking
Next, the project he told us, is titled Diagonal Boxes in Saitama. The house was dedicated for a group of family consist by grandparents and parent with their 2 kids. Basically the house is formed by the simple box stacked with 45 degree rotated box in the 2nd floor to give optimum opening to the south and reduce the shadow exposure of neighborhood building.  This massing configuration also ensure every room inside the building get proper sunlight.  Furthermore, Norihisa also using technology such as water-filled plastic bottle under the floor to stabilize the temperature, while vacuum triple glass, resin sash, insulated honeycomb blind, and high airtight also added to give treatment to increase the outer skin performance.  The ventilation system made it a comfortable thermal environment even in without active heating and cooling system, making it a more pleasant housing and create "nature ties". In addition, this house is certified as a low-carbon housing.  A solar panel of 10 kW is installed on the roof and they could sell the overproduction electricity with fixed price purchase system of 20 years to the electric company.

House also need to enhance the cultural aspect of the certain region. Since this house was located in Kyoto, the house adopt the traditional gable roof form. The house has three gabled roof increase from north to south. The difference of roof height give space for the sun to enter the house, view of the sky to be seen and flowedair. Outdoor terrace also make it’s possible to create the enforcement for the earthquake resistant and function as buffer space for the air and sun from the surrounding to the building. Through 2nd floor, there’s a view of surrounding mountain, so Norihisa put the living, dining and kitchen area in 2nd floor. In addition, this building also using special technology in the insulation to maintain thermal comfort.

Picture 3 Question and answer session
In the question and answer session, some interesting question were asked to Norihisa. Like how to create structures that could be resist to the earthquake. Norihisa replied if all buildings in Japan since Kobe Earthquake and lately Tohoku Earthquake, had already follow the law and regulation in order  to ensure the structure safety, so aside giving the enforcement on the column and wall, selection of light material also become consideration. Other interesting question is on how Norihisa interpreted toward a good architecture whether it should be follow the global trend or enhancing the cultural identity of the city. Norihisa mention if identity is just one of the character for the Architecture, since it’s always changing follow the human preference, activity and progress of civilization. A good architecture should be connect the nature potential and the human need. Next question were asked regarding on what could be learn from traditional architecture and modern architecture. Norihisa said if a good design should be try to balance those components. The unique form and detail of traditional Architecture actually born because of long experience and countless trial and error from our ancestor. It’s already formed with the consideration on how to gain comfort through local resources. Meanwhile modern architecture made us possible to analyze more detail on environmental aspect and explore the recent technology to select the material. The combination of them would create a good Architecture.  Last question asked on the session whether the building designed by Norihisa already ensure to minimize the construction waste and give something back to the nature. Norihisareplied, if he realize if his building design still create a carbon footprint, however he made sure to give passive design and applied the recent technology so that, the user get comfort range of temperature, humidity and sunlight in order to  decrease the energy use by the building user.

Picture 4 Popo Danes, and Melati Danes give souvenir to Norihisa Kawashima

Picture 5 Group photos with the audiences

Friday, September 8, 2017

Architect Under Big 3 : #89 Design Alliance Workshop


Architects Under Big 3 #89 Patriot Negri / Design Alliance Workshop
“0: Start from Scratch to Grow a Startup Architecture Firm”
start from scratch : “to start from the very beginning; to start from nothing”.

A story regarding on how a startup architecture firm was formed initially with 0 (zero) Rupiah and today  already successfully experience handling the small scale project such as house to the big scale project  like mixed-use building. DAW (Design Alliance Workshop) was formed in the mid 2016 as the initiative from Andi Anggoro or nicknamed Andi, anITB architecture graduate who came back to Jakarta after worked for 8 years in DP Architects, Singapore. In the beginning, he was looked for any potential associates to collaborate on some personal project commision on him. The answer come with Patriot Negri or nicknamed Egi, an Architect who taken his undergraduate studies in 2009 and master studies in 2013.  On june 2016, they was worked in a homestay project that located in Lebak Bulus area.  In additon at that time, Egi also had graduated from his master studies and actively engaged as a freelance for independent consultant from Kemitraan Habitat for 1 years.
After several months we got the project to design an Apartment in Lenmarc, Surabaya. This project made Andi asked his former colleague, Asep Darmana or nicknamed Asep  and Raymond Halim to join his team. Previously, Asep was taken his undergraduate studies at ITB in 2005 and worked in DP Architects Singapore for 5 years  and owned his firm, Typical Studio. Meanwhile, Raymond was taken his diploma in RMIT Melbourne, B.arch in Deakin University Australia, M.Arch in Academy of Art University of San Fransisco, United States, worked as Junior Architect for DP Architects for 9 Months and worked freelance for CASA 32 townhouse and others. Few months later, we received new commision to design Blackbox Community Hub Bandung – a building which main function is cafe and using container for its main material. At the same time, we also decided to  ask our other colleague to join our team, Carol Dewitasari. Carol  taken her undegraduate studies in 2004 and continued her master in University of Applied Science, Stuttgart, Germany in 2014. She also had worked in DP Architects Singapore for 1 year as Junior Architect and presently working in  Richter Lighting GmbH Germany from 2014.
Started from  various individual with different background and bustle. Design Alliance Workshop or DAW was formed from the need to work independently (not in the scope of  domestic  or overseas corporate) and able to deliver a high quality of work with the International standars from experience working abroad in the global context. Begin with zero capital, DAW was formed by work on separate distribution of work load and communicate via online without direct communication. The biggest spend on beginning of firm was on buying the stamp that attached on letter of offering for ongoing projects. This zero capital finnally lead to result after worked separately for 5 months. From that time, DAW extend its foucs by open its studio in a rent house located in Cipete Area.
In the beginning of 2017 until now, DAW have been accepted 3 staffs graduate as best graduate from their university  in order to working on its project. In the later presentation will explained how DAW able to survive with zero capital from June to November 2016 and bravely open our office that successfully running for 1.5 years until present. We would also present on how some on going projects, challenges in facing various clients and other interesting story on running this young architecture firm. 
 
About Patriot Negeri :

Patriot Negri or commonly called as Egi was born in Ujung Pandang on 18 September 1991 was the Co-Founder and Director of Design Alliance Workshop (DAW) Jakarta. He was taken his undergraduate studies in Institut Teknologi Bandung in 2009. His final project, designing Rasuna Said Office Tower that guided by Mr. Ridwan Kamil was stated as the best final project  during his graduation period. He also continue his master studies in ITB and graduate in 2016. His final thesis was titled : “Urban Climate Resiliences as an Approach to Design Flood Adaptive House (Amphibious House) “Case Study: Kampung Cieunteung RW 20, Baleendah”. The thesis focus on how a certain settlement able to survive on annual flooding by  making the house into amphibious house.

Before founded DAW with his senior, he had won several prizes in Architecture Competition either in National or International Competition. It was 1st prize for FuturArc Prize Student Competition on 2013, 1st prize in Sinarmas Young Architect Competition 2014 “Masterplan Category”, 2nd prize for International Workshop in Re-Designing Kurozaki, Japan, Merit Prize Futur Arc Prize Student Competition 2015, 2nd Prize on Visioning Jakarta 2045 and top 5 Finalist Surya University 2013. He also had been worked as Junior Architect in PT. Tsana Mulia, Bandung, PT. Atelier 6 Arsitek, Jakarta, and Department of Development in Institut Teknologi Bandung and Kemitraan Habitat. Some of the Architecture workshop already followed by him, either in national or International level. He also often invited as the speaker in BCI Asia & Futurarc Interchange Session, Bandung, Guest Speaker AUB 3 #58, Guest Speaker in Tourism Planning Forum “Tourism Design and Prototype Conference’, Jakarta, Guest Lecture in Lambung Mangkurat University, Banjarmasin and some opportunity of Guest Lecture in Architecture Department, Institut Teknologi Bandung. 

Tuesday, August 8, 2017

Post Event - Architects Under Big 3 88 Sukinsi Sukawruh


Gambar 1 Sukinsi Sukawruh sedang memaparkan materi di AUB 88

Pada edisi ke 88 Architects Under Big 3 kali ini, kita kedatangan tamu seorang arsitek muda yang aktif melakukan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, sosial, dan arsitektur, Sukinsi Sukawru. Kinsi bercerita mengenai pengalamannya selama terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang pernah ia lakukan dan mengajak para audiens untuk melihat dan berpikir ulang dalam kaitannya dengan arsitektur.
Lulus pada tahun 2016, Kinsi masih mempertanyakan apa dan bagaimana itu arsitektur. Keresahannya semakin bertambah ketika pada 21 ini orang mulai berlomba-lomba untuk menyelesaikan masalah, khususnya di bidang lingkungan dan sosial, yang secara tidak langsung menjadi sebuah tren yang juga menular ke dunia arsitektur. Hal tesebutlah yang medorongnya untuk mulai aktif berkegiatan di bidang sosial dan lingkungan sembari mencari makna dari arsitektur itu sendiri.

Kegiatan lingkungan yang pertama kali ia ikuti adalah komunitas Trash Hero, Ubud. Bersama komunitas tersebut, ia turut serta dalam membersihkan lingkungan dari sampah yang ada. Disini Kinsi juga turut menyadarkan masyarakat bahwa menjaga lingkungan merupakan hal yang penting. Tak hanya ikut serta dalam komunitas tersebut, Kinsi juga sempat mengutip perkataan dari Ida Pedanda Made Gunung bahwa, bahaya sampah yang ada di bali sebenarnya berasal dari pura itu sendiri. Hal ini kemudian menginspirasinya untuk membuat projek kolaborasi dengan memanfaatkan ilmu arsitektur yang dimilikinya untuk mengatasi masalah-masalah sampah yang berasal dari pura.

Setelah kegiatan lingkungan, Kinsi berusaha lagi mencari makna arsitektur melalu kegiatan sosial di Gunung Kidul dengan mengamati aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal disana. Disana ia menemukan bahwa teori-teori yang ia pelajari semasa universitas tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi aktual yang ada disana. Masalah-masalah yang timbul di masyarakat terkadang hanya bisa diselesaikan oleh partisipasi masyarakat di dalamnya.

Dengan background pendidikan arsitektur, tentunya Kinsi juga tetap ingin berkarir dan mencoba merasakan bekerja di sebuah konsultan arsitektur. Lagi-lagi sambil mencari apa dan bagaimana arsitektur yang sesungguhnya, Kinsi bekerja sebagai junior architect di Triaco Architect di Denpasar, Bali. Dengan basis desain partisipatori, Kinsi belajar bahwa dalam desain tidak hanya melibatkan satu pihak, melainkan dari banyak multidisiplin ilmu yang memiliki peran yang penting.

Pengalaman Sukinsi dalam kegiatan-kegiatan yang pernah ia lakukan hingga sekarang membuat ia berpikir bahwa seorang arsitek kini banyak hanya mementingkan branding namun tidak memikirkan masalah lingkungan, maupun sosial yang ada di masyarakat. Hal inilah yang kemudian harus dimiliki oleh praktisi arsitek agar lebih memahami makna dan bagaimana suatu karya arsitektur yang sesungguhnya.


Gambar 2 Ari memaparkan hasil dikusi kelompok mengenai makna arsitektur

Setelah sesi pemaparan AUB ke 88 kali ini dilanjutkan dengan sesi diskusi, dimana audiens diajak untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai arsitektur yang telah disiapkan oleh Sukinsi. Audiens kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar. Diskusi berlangsung selama 15 menit dan kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari masing-masing kelompok. Latar belakang audiens yang berbeda menyebabkan jawaban yang dipaparkan berbeda antar kelompok. Kelompok pertama yang diwakili oleh Ari memaparkan bahwa arsitektur merupakan ilmu merancang bangunan yang memperhatikan konstruktibilitas. Bagi Ari, arsitek merupakan pewujud mimpi dari masyarakat. Sedangkan Ica yang berasal dari kelompok kedua memaparkan seorang arsitek harus paham betul mengenai fungsi yang ada didalamnya dan merangkul disiplin-disiplin ilmu lainnya agar menghasilkan karya arsitektur yang tepat guna.

Gambar 3 Suasana Diskusi AUB 88

Arsitek dalam menjalankan karirnya di dunia arsitektur harus selalu belajar dan belajar agar lebih memahami apa makna dibalik ilmu arsitektur yang sesungguhnya. Pengalaman Kinsi di bidang sosial dan lingkungan merupakan contoh bahwa arsitektur tidak hanya tentang estetika, branding, dan ego arsitek, melainkan arsitektur adalah sesuatu yang tidak lepas dari apa yang ada di sekitar kita.

Gambar 4 Foto bersama pembicara dan audiens AUB 88

Monday, July 31, 2017

Press Release: Architect Under Big 3 88 - Sukinsi Sukawruh

Press Release AUB3 #88 : Sukinsi Sukawruh

“Melihat Dunia Lingkungan, Arsitektur, dan Sosial”
Sebuah perjalanan hidup dalam menyimak dan berpikir ulang dalam kegiatan lingkungan dan sosial yang menjadi tren dan sangat berpengaruh di segala aspek, termasuk dalam berasitektur. Serta melihat lebih dalam “perkembangan” arsitektur yang begitu cepat dengan segala nilai jual yang ditawarkan.

Bagian 1-Dunia Lingkungan
Sebuah dunia yang banyak diperjuangkan oleh orang yang “peduli terhadap lingkungan” atau lebih dikenal dengan sebutan “aktivis/penggiat lingkungan”. Sejak di bangku kuliah banyak sekali kegiatan-kegiatan peduli lingkungan yang di buat oleh organisasi kampus yang saya ikuti. Hal inilah yang membuat saya tetap konsisten hingga saat bekerja, saya bergabung dengan NGO Internasional bernama Trash Hero. Perkenalan dengan NGO ini berawal dari sebuah pertemuan salah satu aktvis lingkungan bernama Pak Supardi, yang merupakan Manager dari Rumah Kompos Padangtegal Ubud. Beliau mengajak saya untuk membuat sebuah proyek yang dapat “merubah” kondisi lingkungan-alam di Bali yang katanya sudah mulai rusak, dimana proyek ini didasari oleh Pesan dari alm. Ida Pedande Made Gunung. Dari kesempatan untuk beraktvitas dan berdiskusi dengan para aktivis tersebutlah saya belajar dan memahami tentang apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh kalangan aktivis lingkungan.

Bagian 2-Arsitektur
Saat ini saya melihat banyak arsitek memiliki branding-branding khusus, yang terkadang membuat para arsitek muda khususnya freshgraduate bimbang atau bingung menentukan pilihannya dalam beraksitektur. Saya sendiri, ketika lulus berlatarbelakang terhadap isu lingkungan dan sosial yang sangat berpengaruh, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di Triaco Arch. Kantor ini dipimpin oleh seorang arsitek bernama Antonio Ismael. Beliau merupakan salah satu penggagas “desain partisipatori” di Asia khususnya Asia tenggara, dimana metode desain ini menjadi “booming” saat ini. Salah satu hasil karyanya yang menggunakan metode partisipasi adalah pengembangan kawasan kumuh Citra Niaga Samarinda, yang memenangkan AGA Khan Awards tahun 1989.  Dengan banyaknya branding arsitek tersebut, adalah baiknya sebagai manusia yang memiliki akal untuk mentelaah terlebih dahulu branding-branding tersebut, juga melihat jauh kebelakang melalui rekaman sejarah yang dapat menjadi sebuah refleksi tentang apa dan untuk apa arsitektur itu. Apakah arsitektur saat ini adalah sebuah kemajuan?

Bagian 3-Sosial
Pada bagian terkahir ini saya akan berbagi pengalaman saya dalam mengikuti pelatihan analisis sosial di sebuah desa terpencil. Saya mendapatkan kesempatan tersebut pada awal tahun 2017, tepatnya bulan Februari. Pelatihan ini di bimbing oleh seorang sosiolog bernama DR. Emmanuel Subangun dan berlangsung selama 2 minggu. Pelatihan ini dilakuan di sebuah desa kecil bernama Giri Karto yang terletak di Gunung Kidul, Yogyakarta. Saya dan beberapa teman yang mengikuti pelatihan ini, diajak untuk  tinggal dan menganalisa masalah yang terjadi di desa terebut dengan terjun langsung dalam kegiatan budaya, maupun kegiatan sehari-hari masyarakat. Melalui pelatihan ini saya belajar melihat masalah dalam sebuah komunitas masyarakat tanpa menggebu-gebu untuk terlebih dahulu memberikan solusi.

Salam,
Sukinsi Sukawruh.

Tentang Pembicara:

Sukinsi Sukawruh lahir di Balikpapan, 01 Oktober 1993 adalah lulusan Univeresitas Brawijaya tahun 2015. Aktif diberbagai organisasi sejak bersekolah, berkuliah, hingga saat ini dalam kegiatan yang terkait dengan lingkungan dan sosial. Saat ini bekerja sebagai “junior arsitek” di Triaco Architect and Development.

Tentang Architects Under Big 3:

Architects Under Big 3 (AUB3) diselenggarakan pada Jumat pertama tiap bulan yang dibawakan oleh arsitek muda berusia di bawah 30 tahun. Dalam kegiatan ini, arsitek muda diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya arsitektur beserta pemikiran mereka pada publik melalui presentasi non formal yang diteruskan dengan diskusi santai. Bertempat di Danes Art Veranda, peserta diberi kebebasan untuk memilih ruangnya sendiri - di halaman, dek, roof top, galeri - dimanapun tempat dimana mereka rasa paling nyaman untuk berbagi cerita dengan pendengarnya. Melalui pendekatan ini, arsitek muda beserta ide dan karya arsitekturnya berkesempatan untuk mendapatkan ruang berkomunikasi dengan khalayak yang lebih luas, baik khalayak awam arsitektur maupun khalayak arsitektur.

Nama kegiatan
Architects Under Big 3
Edisi
88
Jenis kegiatan
Presentasi dan Diskusi
Pembicara
Sukinsi Sukawruh
Hari, Tanggal
Jumat,4 Agustus 2017
Waktu
19.00 - 21.00 WITA
Lokasi
Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk no. 159 Denpasar 80235 Bali, Indonesia
Telepon
+62-361-242659
Fax
+62-361-242588
Contact Person
+62-81-337-068-319 (Dea)
Email
ArchitectsUnderBig3@popodanes.com
Blog
Architects Under Big 3
Twitter
@underbig3
Instagram
underbig3