Friday, September 8, 2017

Architect Under Big 3 : #89 Design Alliance Workshop


Architects Under Big 3 #89 Patriot Negri / Design Alliance Workshop
“0: Start from Scratch to Grow a Startup Architecture Firm”
start from scratch : “to start from the very beginning; to start from nothing”.

A story regarding on how a startup architecture firm was formed initially with 0 (zero) Rupiah and today  already successfully experience handling the small scale project such as house to the big scale project  like mixed-use building. DAW (Design Alliance Workshop) was formed in the mid 2016 as the initiative from Andi Anggoro or nicknamed Andi, anITB architecture graduate who came back to Jakarta after worked for 8 years in DP Architects, Singapore. In the beginning, he was looked for any potential associates to collaborate on some personal project commision on him. The answer come with Patriot Negri or nicknamed Egi, an Architect who taken his undergraduate studies in 2009 and master studies in 2013.  On june 2016, they was worked in a homestay project that located in Lebak Bulus area.  In additon at that time, Egi also had graduated from his master studies and actively engaged as a freelance for independent consultant from Kemitraan Habitat for 1 years.
After several months we got the project to design an Apartment in Lenmarc, Surabaya. This project made Andi asked his former colleague, Asep Darmana or nicknamed Asep  and Raymond Halim to join his team. Previously, Asep was taken his undergraduate studies at ITB in 2005 and worked in DP Architects Singapore for 5 years  and owned his firm, Typical Studio. Meanwhile, Raymond was taken his diploma in RMIT Melbourne, B.arch in Deakin University Australia, M.Arch in Academy of Art University of San Fransisco, United States, worked as Junior Architect for DP Architects for 9 Months and worked freelance for CASA 32 townhouse and others. Few months later, we received new commision to design Blackbox Community Hub Bandung – a building which main function is cafe and using container for its main material. At the same time, we also decided to  ask our other colleague to join our team, Carol Dewitasari. Carol  taken her undegraduate studies in 2004 and continued her master in University of Applied Science, Stuttgart, Germany in 2014. She also had worked in DP Architects Singapore for 1 year as Junior Architect and presently working in  Richter Lighting GmbH Germany from 2014.
Started from  various individual with different background and bustle. Design Alliance Workshop or DAW was formed from the need to work independently (not in the scope of  domestic  or overseas corporate) and able to deliver a high quality of work with the International standars from experience working abroad in the global context. Begin with zero capital, DAW was formed by work on separate distribution of work load and communicate via online without direct communication. The biggest spend on beginning of firm was on buying the stamp that attached on letter of offering for ongoing projects. This zero capital finnally lead to result after worked separately for 5 months. From that time, DAW extend its foucs by open its studio in a rent house located in Cipete Area.
In the beginning of 2017 until now, DAW have been accepted 3 staffs graduate as best graduate from their university  in order to working on its project. In the later presentation will explained how DAW able to survive with zero capital from June to November 2016 and bravely open our office that successfully running for 1.5 years until present. We would also present on how some on going projects, challenges in facing various clients and other interesting story on running this young architecture firm. 
 
About Patriot Negeri :

Patriot Negri or commonly called as Egi was born in Ujung Pandang on 18 September 1991 was the Co-Founder and Director of Design Alliance Workshop (DAW) Jakarta. He was taken his undergraduate studies in Institut Teknologi Bandung in 2009. His final project, designing Rasuna Said Office Tower that guided by Mr. Ridwan Kamil was stated as the best final project  during his graduation period. He also continue his master studies in ITB and graduate in 2016. His final thesis was titled : “Urban Climate Resiliences as an Approach to Design Flood Adaptive House (Amphibious House) “Case Study: Kampung Cieunteung RW 20, Baleendah”. The thesis focus on how a certain settlement able to survive on annual flooding by  making the house into amphibious house.

Before founded DAW with his senior, he had won several prizes in Architecture Competition either in National or International Competition. It was 1st prize for FuturArc Prize Student Competition on 2013, 1st prize in Sinarmas Young Architect Competition 2014 “Masterplan Category”, 2nd prize for International Workshop in Re-Designing Kurozaki, Japan, Merit Prize Futur Arc Prize Student Competition 2015, 2nd Prize on Visioning Jakarta 2045 and top 5 Finalist Surya University 2013. He also had been worked as Junior Architect in PT. Tsana Mulia, Bandung, PT. Atelier 6 Arsitek, Jakarta, and Department of Development in Institut Teknologi Bandung and Kemitraan Habitat. Some of the Architecture workshop already followed by him, either in national or International level. He also often invited as the speaker in BCI Asia & Futurarc Interchange Session, Bandung, Guest Speaker AUB 3 #58, Guest Speaker in Tourism Planning Forum “Tourism Design and Prototype Conference’, Jakarta, Guest Lecture in Lambung Mangkurat University, Banjarmasin and some opportunity of Guest Lecture in Architecture Department, Institut Teknologi Bandung. 

Tuesday, August 8, 2017

Post Event - Architects Under Big 3 88 Sukinsi Sukawruh


Gambar 1 Sukinsi Sukawruh sedang memaparkan materi di AUB 88

Pada edisi ke 88 Architects Under Big 3 kali ini, kita kedatangan tamu seorang arsitek muda yang aktif melakukan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, sosial, dan arsitektur, Sukinsi Sukawru. Kinsi bercerita mengenai pengalamannya selama terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang pernah ia lakukan dan mengajak para audiens untuk melihat dan berpikir ulang dalam kaitannya dengan arsitektur.
Lulus pada tahun 2016, Kinsi masih mempertanyakan apa dan bagaimana itu arsitektur. Keresahannya semakin bertambah ketika pada 21 ini orang mulai berlomba-lomba untuk menyelesaikan masalah, khususnya di bidang lingkungan dan sosial, yang secara tidak langsung menjadi sebuah tren yang juga menular ke dunia arsitektur. Hal tesebutlah yang medorongnya untuk mulai aktif berkegiatan di bidang sosial dan lingkungan sembari mencari makna dari arsitektur itu sendiri.

Kegiatan lingkungan yang pertama kali ia ikuti adalah komunitas Trash Hero, Ubud. Bersama komunitas tersebut, ia turut serta dalam membersihkan lingkungan dari sampah yang ada. Disini Kinsi juga turut menyadarkan masyarakat bahwa menjaga lingkungan merupakan hal yang penting. Tak hanya ikut serta dalam komunitas tersebut, Kinsi juga sempat mengutip perkataan dari Ida Pedanda Made Gunung bahwa, bahaya sampah yang ada di bali sebenarnya berasal dari pura itu sendiri. Hal ini kemudian menginspirasinya untuk membuat projek kolaborasi dengan memanfaatkan ilmu arsitektur yang dimilikinya untuk mengatasi masalah-masalah sampah yang berasal dari pura.

Setelah kegiatan lingkungan, Kinsi berusaha lagi mencari makna arsitektur melalu kegiatan sosial di Gunung Kidul dengan mengamati aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal disana. Disana ia menemukan bahwa teori-teori yang ia pelajari semasa universitas tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi aktual yang ada disana. Masalah-masalah yang timbul di masyarakat terkadang hanya bisa diselesaikan oleh partisipasi masyarakat di dalamnya.

Dengan background pendidikan arsitektur, tentunya Kinsi juga tetap ingin berkarir dan mencoba merasakan bekerja di sebuah konsultan arsitektur. Lagi-lagi sambil mencari apa dan bagaimana arsitektur yang sesungguhnya, Kinsi bekerja sebagai junior architect di Triaco Architect di Denpasar, Bali. Dengan basis desain partisipatori, Kinsi belajar bahwa dalam desain tidak hanya melibatkan satu pihak, melainkan dari banyak multidisiplin ilmu yang memiliki peran yang penting.

Pengalaman Sukinsi dalam kegiatan-kegiatan yang pernah ia lakukan hingga sekarang membuat ia berpikir bahwa seorang arsitek kini banyak hanya mementingkan branding namun tidak memikirkan masalah lingkungan, maupun sosial yang ada di masyarakat. Hal inilah yang kemudian harus dimiliki oleh praktisi arsitek agar lebih memahami makna dan bagaimana suatu karya arsitektur yang sesungguhnya.


Gambar 2 Ari memaparkan hasil dikusi kelompok mengenai makna arsitektur

Setelah sesi pemaparan AUB ke 88 kali ini dilanjutkan dengan sesi diskusi, dimana audiens diajak untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai arsitektur yang telah disiapkan oleh Sukinsi. Audiens kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar. Diskusi berlangsung selama 15 menit dan kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari masing-masing kelompok. Latar belakang audiens yang berbeda menyebabkan jawaban yang dipaparkan berbeda antar kelompok. Kelompok pertama yang diwakili oleh Ari memaparkan bahwa arsitektur merupakan ilmu merancang bangunan yang memperhatikan konstruktibilitas. Bagi Ari, arsitek merupakan pewujud mimpi dari masyarakat. Sedangkan Ica yang berasal dari kelompok kedua memaparkan seorang arsitek harus paham betul mengenai fungsi yang ada didalamnya dan merangkul disiplin-disiplin ilmu lainnya agar menghasilkan karya arsitektur yang tepat guna.

Gambar 3 Suasana Diskusi AUB 88

Arsitek dalam menjalankan karirnya di dunia arsitektur harus selalu belajar dan belajar agar lebih memahami apa makna dibalik ilmu arsitektur yang sesungguhnya. Pengalaman Kinsi di bidang sosial dan lingkungan merupakan contoh bahwa arsitektur tidak hanya tentang estetika, branding, dan ego arsitek, melainkan arsitektur adalah sesuatu yang tidak lepas dari apa yang ada di sekitar kita.

Gambar 4 Foto bersama pembicara dan audiens AUB 88

Monday, July 31, 2017

Press Release: Architect Under Big 3 88 - Sukinsi Sukawruh

Press Release AUB3 #88 : Sukinsi Sukawruh

“Melihat Dunia Lingkungan, Arsitektur, dan Sosial”
Sebuah perjalanan hidup dalam menyimak dan berpikir ulang dalam kegiatan lingkungan dan sosial yang menjadi tren dan sangat berpengaruh di segala aspek, termasuk dalam berasitektur. Serta melihat lebih dalam “perkembangan” arsitektur yang begitu cepat dengan segala nilai jual yang ditawarkan.

Bagian 1-Dunia Lingkungan
Sebuah dunia yang banyak diperjuangkan oleh orang yang “peduli terhadap lingkungan” atau lebih dikenal dengan sebutan “aktivis/penggiat lingkungan”. Sejak di bangku kuliah banyak sekali kegiatan-kegiatan peduli lingkungan yang di buat oleh organisasi kampus yang saya ikuti. Hal inilah yang membuat saya tetap konsisten hingga saat bekerja, saya bergabung dengan NGO Internasional bernama Trash Hero. Perkenalan dengan NGO ini berawal dari sebuah pertemuan salah satu aktvis lingkungan bernama Pak Supardi, yang merupakan Manager dari Rumah Kompos Padangtegal Ubud. Beliau mengajak saya untuk membuat sebuah proyek yang dapat “merubah” kondisi lingkungan-alam di Bali yang katanya sudah mulai rusak, dimana proyek ini didasari oleh Pesan dari alm. Ida Pedande Made Gunung. Dari kesempatan untuk beraktvitas dan berdiskusi dengan para aktivis tersebutlah saya belajar dan memahami tentang apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh kalangan aktivis lingkungan.

Bagian 2-Arsitektur
Saat ini saya melihat banyak arsitek memiliki branding-branding khusus, yang terkadang membuat para arsitek muda khususnya freshgraduate bimbang atau bingung menentukan pilihannya dalam beraksitektur. Saya sendiri, ketika lulus berlatarbelakang terhadap isu lingkungan dan sosial yang sangat berpengaruh, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di Triaco Arch. Kantor ini dipimpin oleh seorang arsitek bernama Antonio Ismael. Beliau merupakan salah satu penggagas “desain partisipatori” di Asia khususnya Asia tenggara, dimana metode desain ini menjadi “booming” saat ini. Salah satu hasil karyanya yang menggunakan metode partisipasi adalah pengembangan kawasan kumuh Citra Niaga Samarinda, yang memenangkan AGA Khan Awards tahun 1989.  Dengan banyaknya branding arsitek tersebut, adalah baiknya sebagai manusia yang memiliki akal untuk mentelaah terlebih dahulu branding-branding tersebut, juga melihat jauh kebelakang melalui rekaman sejarah yang dapat menjadi sebuah refleksi tentang apa dan untuk apa arsitektur itu. Apakah arsitektur saat ini adalah sebuah kemajuan?

Bagian 3-Sosial
Pada bagian terkahir ini saya akan berbagi pengalaman saya dalam mengikuti pelatihan analisis sosial di sebuah desa terpencil. Saya mendapatkan kesempatan tersebut pada awal tahun 2017, tepatnya bulan Februari. Pelatihan ini di bimbing oleh seorang sosiolog bernama DR. Emmanuel Subangun dan berlangsung selama 2 minggu. Pelatihan ini dilakuan di sebuah desa kecil bernama Giri Karto yang terletak di Gunung Kidul, Yogyakarta. Saya dan beberapa teman yang mengikuti pelatihan ini, diajak untuk  tinggal dan menganalisa masalah yang terjadi di desa terebut dengan terjun langsung dalam kegiatan budaya, maupun kegiatan sehari-hari masyarakat. Melalui pelatihan ini saya belajar melihat masalah dalam sebuah komunitas masyarakat tanpa menggebu-gebu untuk terlebih dahulu memberikan solusi.

Salam,
Sukinsi Sukawruh.

Tentang Pembicara:

Sukinsi Sukawruh lahir di Balikpapan, 01 Oktober 1993 adalah lulusan Univeresitas Brawijaya tahun 2015. Aktif diberbagai organisasi sejak bersekolah, berkuliah, hingga saat ini dalam kegiatan yang terkait dengan lingkungan dan sosial. Saat ini bekerja sebagai “junior arsitek” di Triaco Architect and Development.

Tentang Architects Under Big 3:

Architects Under Big 3 (AUB3) diselenggarakan pada Jumat pertama tiap bulan yang dibawakan oleh arsitek muda berusia di bawah 30 tahun. Dalam kegiatan ini, arsitek muda diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya arsitektur beserta pemikiran mereka pada publik melalui presentasi non formal yang diteruskan dengan diskusi santai. Bertempat di Danes Art Veranda, peserta diberi kebebasan untuk memilih ruangnya sendiri - di halaman, dek, roof top, galeri - dimanapun tempat dimana mereka rasa paling nyaman untuk berbagi cerita dengan pendengarnya. Melalui pendekatan ini, arsitek muda beserta ide dan karya arsitekturnya berkesempatan untuk mendapatkan ruang berkomunikasi dengan khalayak yang lebih luas, baik khalayak awam arsitektur maupun khalayak arsitektur.

Nama kegiatan
Architects Under Big 3
Edisi
88
Jenis kegiatan
Presentasi dan Diskusi
Pembicara
Sukinsi Sukawruh
Hari, Tanggal
Jumat,4 Agustus 2017
Waktu
19.00 - 21.00 WITA
Lokasi
Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk no. 159 Denpasar 80235 Bali, Indonesia
Telepon
+62-361-242659
Fax
+62-361-242588
Contact Person
+62-81-337-068-319 (Dea)
Email
ArchitectsUnderBig3@popodanes.com
Blog
Architects Under Big 3
Twitter
@underbig3
Instagram
underbig3





Tuesday, July 25, 2017

Architect Under Big 3 : #88 Sukinsi Sukawruh


Architect Under Big 3 : #88 Sukinsi Sukawruh
Belajar arsitektur selama 4,5 tahun di kampus tidak membuat saya sepenuhnya mengerti apa dan untuk apa arsitektur itu. Ke tidak mengertian itu sangatlah tepat jika digambarkan dengan kata “keresahaan”. Keresahan tersebut semakin bertambah ketika pada 21 ini orang mulai berlomba-lomba untuk menyelesaikan masalah, khususnya di bidang lingkungan dan sosial, yang secara tidak langsung menjadi sebuah tren yang juga menular ke dunia arsitektur. Hal tesebutlah yang medorong saya untuk menjadi seorang “penggiat” sosial dan lingkungan. Keturut sertaan dalam berbagai aktivitas lingkungan dan sosial tersebut secara tidak langsung membantu saya dalam melihat dan mempelajari beberapa hal dalam hidup, terkhusus arsitektur.

Dalam presentasi yang akan saya berikan, saya tidak akan mengajak para arsitek muda untuk terjun bersama-sama dalam kegiatan lingkungan-sosial, melainkan untuk melihat dan berpikir ulang melalui rekam kegiatan saya di dunia arsitektur, lingkungan dan sosial.

Salam,
Sukinsi Sukawruh

Tentang Pembicara

Sukinsi Sukawruh lahir di Balikpapan, 01 Oktober 1993 adalah lulusan Universitas Brawijaya tahun 2015. Aktif diberbagai organisasi sejak bersekolah, berkuliah, hingga saat ini dalam kegiatan yang terkait dengan lingkungan dan sosial. Saat ini bekerja sebagai “junior arsitek” di Triaco Architect and Development.

Monday, July 10, 2017

Post Release Event Architects Under Big 3 #87 - Nawabha Architects


“Architecture Studio Managerial - Great System, Sustainable Business”

Di edisi ke 87 tahun ke-8 AUB kali ini, kita kedatangan tamu dari Bandung yaitu Nawabha Architects yang membahas kiat-kiat sukses mereka dalam merintis sebuah konsultan arsitektur. Tergolong muda, Tomo dan Teguh mewakili rekan-rekannya dalam menyampaikan metode yang mereka gunakan dalam merancang sistem yang berkelanjutan dalam menjalankan bisnis arsitektur miliknya.

 
Gambar 1 Teguh dan Tomo melakukan pemaparan materi

Lulus dari jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung pada tahun 2011, Tomo, Teguh, Lia, Jihad, Annas, Toos, Melati, Fajri, dan Nove membulatkan tekad untuk segera membuka konsultan arsitektur bernama Nawabha Architects yang berarti sembilan cahaya. Dengan modal 0 rupiah, laptop, dan keberanian, mereka mulai mengerjakan proyek-proyek kecil yang didapatkan dari kerabat dekat mereka. Dalam keberjalanannya, Nawabha selalu mengedepankan sistem dalam berbisnis. Dengan sistem, hal-hal yang riskan menimbulkan perpecahan seperti uang dapat diselesaikan dengan mudah.