Monday, May 28, 2018

The Future of Fashion x Architecture - Architects Under Big 3 #97



Collaboration both of architect and fashion designer fairly new in our community, meanwhile both of architecture and fashion has many similarity, such as, both fields have similarity in their design process.

There are included digital design process, use of complex geometry, colours, lines, lights, etc. it consist of sketching, editing and concepting. Design is part of every person’s daily activities, most of us live inside a building which designed by an architect, and all of the clothes in our wardrobe is designed by fashion designer. Therefore, both architecture and fashion has influenced many young generations (millennials) to create new profession called Selebgram or fashion blogger who posted their photos on Social Media to make money.  

About Speaker: 

Co-Founder of
Balinese Vibes
Balinese Vibes is a comunity of Enterpreneur and Creative Industry based on Bali. These three young woman Wina Sartika, Sonya Castalia, Desi Astriani are co Founder of Balinese Vibes. They have won many achievement in fashion industry. 

These talk will be held on:
Friday - June 8th  2018
Danes Art Veranda
Jl. Hayam Wuruk No. 159, Denpsar
Bali-Indonesia
07.00 - 09.00PM

FREE ENTRY, 
FREE CERTIFICATE, 
and NO REGISTRATION NEEDED!


For more information follow us on Instagram @architectsunderbig3, 

 Address             : Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk no. 159 Denpasar 80235 Bali, Indonesia
Facebook          : Architects Under Big 3
Twitter               : @underbig3
Email                 : ArchitectsUnderBig3@popodanes.com
Contact Person : +62-85-737-146-471 (Nia)


Friday, May 11, 2018

Architectural Inspiration : “WHY EVERY DESIGN SHOULD BE UNIQUE ?”


Press Event Release Architects Under Big 3 #96
Jery Yasa and Gede Jayantara

"Bangunan Tertinggi di Indonesia Timur"
Mengawali Architect Under Big 3 tahun ke-9 edisi ke-96 ini menghadirkan dua arsitek muda Bali lulusan Universitas Udayana. Jery Yasa dan Gede Jayantara menceritakan pengalamannya dalam mengikuti sayembara arsitektur. Mereka menceritakan tiga karya terbaiknya, yang salah satunya merupakan mendapatkan juara dua. Peserta AUB3 kali ini dihadiri sebanyak 50 peserta, diantaranya ada Bapak Baskoro Tedjo arsitek dan teman-teman dari Seminyak Design Week datang untuk melihat presentasi dari Jery dan Gede.
Presentasi pertama diawali oleh arsitek Jery Yasa menceritakan sayembara Rumah 1 Are yang diselenggarakan oleh IYA (Indonesian Young Architect), Desainnya terpilih untuk masuk pada pameran 1 Are House. Konsep rumah yang dituangkan dalam designnya berawal dari profesi klien yang merupakan chef, yang mempunyai hobi fotografi surfing dan sangat menyayangi anjingnya. Sehingga dari hal tersebut arsitek Jery Yasa mendapatkan inspirasi untuk dituangkan dalam desain, namun dengan lahan yang terbatas, ruang-ruang dibagi menjadi tiga area dengan konsep “Full Course”- konsep ini sangat unik karena sesuai dengan profesi klien.

Sayembara Desain Rumah 1 Are oleh Arsitek Jery Yasa dan Team
Selanjutnya pengalaman yang dibagikan arsitek Jery Yasa yaitu, dalam mengikuti sayembara di Negara Sinegal di wilayah Sedhio, sayembara ini ditujukan untuk mendesain Cultural Center di Sedhio. Yang didesain oleh Jery dan timnya (Angga Iswara, Japa Wibisana, Fildzah Handiani). Konsep kali ini terinspirasi dari kebudayaan yang berada di Sedhio, Mulanya mereka mengidentifikasi  karakter  site yang sudah disediakan oleh penyelenggara, mereka hanya bisa mengandalkan foto-foto dan google maps dalam menghayati karakter site tersebut, juga informasi mengenai budaya, suku, kota, dan arsitekturnya, yang didapat dari google. Setelah mendapatkan inspirasi, maka terdapatlah konsepnya yaitu “Shade of Sedhiou”. Konsep ini sangat menarik, karena mereka mendapatkan ide dari bayangan sinar matahari yang sesuai dari tujuan bangunan Cultural Center memberikan tempat bagi masyarakat sedhiou untuk melestarikan dan mengembangkan budaya mereka

Sayembara Desain-Kaira Looro - Architecture For Peace - Cultural Center 
Presentasi selanjutnya dijelaskan oleh arsitek Gede Jayantara, yang kali ini menceritakan pengalamannya bersama timnya (Wayan Winarta, Bhakti Raharjo, Jery Yasa, Rangga Baskara) dalam mengikuti Sayembara Desain Gedung New Balaikota dan DPRD Kota Makassar”. Untuk menemukan kosep yang unik, Gede beserta timnya menganalisa SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunity, Threats), yang berada sekitar site di Makassar, maka didapatlah beberapa data yang bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam merancang konsep. Ada beberapa hal yang menarik yang Gede dan timnya temukan, yaitu berbagai budaya, alat transportasi, kebiasaan masyarakat Makassar, semangat dan kebanggan Kota Makassar, sehingga dibuatlah konsep “Balla Ratea” yang singkat, luas, simbolik, gampang diingat dan menunjukan identitas Kota Makassar. 


Begitulah perjalanan yang Jery Gede beserta timnya lakukan untuk mendapatkan desain terbaik, karena dengan memahami karakter dari site, budaya, arsitektur local, akan menjadikan setiap bangunan yang kita desain akan menjadi unik, dan sesuai dengan penggunannya. Setelah presentasi dilanjutkan dengan beberapa diskusi, salah satu pertanyaan yang mearik ditanyakan oleh Bapak Baskoro Tedjo yang merupakan arsitek sekaligus Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu “Dalam mendesain seorang arsitek harus menginjakkan kakinya di site untuk menghayati suasana, karakter pada site, karena jika tidak, arsitek tidak akan benar-benar merasakan suasananya. Nah, bagaimana cara Jery dan Gede menghayati karakter pada site apabila tidak ke site?”. Jery dan Gede tertawa sejenak, lalu menjawab, “Kami berusaha menghayati karakter, suasana, dan potensi site dengan  cara melihat dari google maps, dan mendapat cerita mengenai Makassar, arsitektur, budaya, pride masyarakat makassar, moto, dan berbagai macam lainnya dari teman yang berasal Makassar, sehingga kami cukup memahami kondisi, suasana, sebagai orang Makassar.”
Setelah sesi diskusi selesai, dilanjutkan dengan penyerahan Sertifikat oleh Program Manager AUB 3 ke pembicara, yang diikuti dengan foto Bersama.












Friday, May 4, 2018

Architectural Inspiration : “WHY EVERY DESIGN SHOULD BE UNIQUE ?”


Press Release Architects Under Big 3 #96
Jery Yasa and Gede Jayantara


Architect Jery Yasa and Gede Jayanra mingled stories of three recent project in Architecture Competition: Sayembara Gedung Balaikota dan DPRD Makassar, Rumah 1 Are, Art and Culture Centre Senegal.

About The Speaker



Jery Yasa is young architect at A & Partners and has participating many architecture competition and co-founder at Jery Yasa Group – Arhitect-Interior-House Developer.




Gede Jayantara is young architect at Design Assembly And has participating many architecture competition also win 2nd Winner in Denpasar Youth Park Competition






Friday, January 5, 2018

Architects Under Big 3 92 - Not Just an Architect, I. B. Angga Pramana Uthama

Architects Under Big 3 #92
Not Just An Architect
I. B. Angga Pramana Uthama


Arsitek muda "zaman now" memiliki kesempatan yang sangat luas, namun hal ini mungkin tidak disadari oleh arsitek-arsitek muda dan arsitek yang baru saja menyelesaikan bangku kuliah. Yang terlintas didalam benak saya ketika mendengar kata arsitek adalah suatu profesi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mendesain sebuah bangunan. Dalam perjalanan karir saya yang baru saja menginjak tahun keempat pada tahun 2018 ini, saya memiliki banyak cerita. Cerita ini yang saya ingin bagi kepada teman-teman AUB bahwa arsitek itu adalah sejauh mana kita dapat mengeksplorasi pengetahuan dan menerapkan sesuai kesempatan yang ada.

Arsitek

Karir saya sebagai arsitek dimulai pada tahun 2014 dengan membuat badan usaha bernama PT.Imaji Kryamaha Utama. Dimulai dari rumah, villa, hotel dan pengembangan objek-pbjek pariwisata. Pada saat itu, saya dapat diibaratkan sebagai balita yang masih belajar untuk berjalan. Beberapa karya saya mendapatkan penghargaan dari Bali Tourism Award, Tripadvisor dan Traveloka dan dipublikasikan di beberapa majalah. Hal ini merupakan sebuah apresiasi yang sangat baik pada karya saya.

Inventor

Pada tahun 2017 saya pernah menjadi inventor pada suatu produk kaca yang berasal dari Jerman, saya mengubah kaca transparan menjadi blind/tidak transparan hanya dengan memberikan kaca aliran elektron. Hal ini sangat berguna untuk privasi dari bangunan high rise dan juga interior bangunan. Penemuan ini kemudian dikembangkan oleh Schuco.

Thursday, November 30, 2017

Architects Under Big 3 91 - Poro(city): The Importance of Permeable Building

Architects Under Big 3 91 - Poro(city), The Importance of Permeable Building

Di Asia, khususnya Indonesia, kita banyak menemukan kasus dimana lingkungan dan ruang publik digantikan oleh bangunan pribadi, atau bangunan untuk kepentingan golongan tertentu. Bangunan tersebut seringkali dibangun tanpa perencanaan yang mempertimbangkan lingkungan, menyebabkan hilangnya fungsi dari elemen kota seperti ruang hijau maupun sungai. Hal ini akan berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat maupun terhadap keberlanjutan kota tersebut.

Untuk meraih kota yang benar-benar “sustainable”, kita sebagai arsitek dituntut untuk bisa menemukan cara baru untuk menciptakan bangunan yang bersinergi dengan kota. Suatu bangunan pasti berada di tengah sistem perkotaan yang luas, yang memiliki jaringan energi dan air, keanekaragaman hayati, jaringan habitat, ruang publik dan sosial. Ketika salah satu atau beberapa sistem jaringan tersebut terdegradasi akibat pembangunan asal-asalan yang merajalela, kota dan penduduknya menderita. Bangunan yang baik adalah bangunan yang memberi dampak baik ke sistem jaringan kota dan lingkungannya, atau paling tidak menggantikan apa yang hilang dari lingkungan tersebut.

Dalam proses perancangan PORO(CITY), kami memiliki tujuan menciptakan bangunan yang secara ekonomi “profit making” namun dirancang secara terencana untuk menghubungkan atau memperbaiki sistem di mana mereka tertanam. Bangunan yang secara sistem bekerja seperti sponge, menyerap dan mengeluarkan kembali hasil resapan air untuk digunakan kembali. Bagaimana kita memfasilitasi kebutuhan masyarakat berbagai kalangan, kebutuhan ekonomi kota, sembari memperbaiki lingkungan dan ekosistem yang ada. Bukan sekedar merancang mall atau high rise mixed use yang dibangun dengan hanya memikirkan segi pendapatan ekonominya saja, tanpa memikirkan kualitas hidup masyarakat kota itu sendiri.

Tentang Pembicara :

Kiri ke Kanan, Fadhil Hafizh Sadewo, Inas Raras Maheningtyas, Asmita Puspasari, M. Ridho Kharisma Putra, dan Bimo Wicaksana

Inas Raras Maheningtyas dan tim yang terdiri dari Asmita Puspasari, M. Ridho Kharisma Putra, Bimo Wicaksana, dan Fadhil Hafizh Sadewo merupakan lulusan Arsitektur ITB 2016-2017. Pada masa kuliah mereka sering berkolaborasi dalam beberapa proyek dibawah himpunan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB. Setelah selesai menyelesaikan Tugas Akhir, mereka memutuskan untuk bergabung menjadi sebuah tim untuk mengikuti kompetisi FuturArc 2017 yang bertema An Architecture for Common Good untuk menyalurkan minat dan concern-mereka terhadap arsitektur dan lingkungan, terutama terhadap kota Bandung tempat mereka kuliah selama 4 tahun. Dan mereka berhasil meraih penghargaan sebagai 1st Winner FuturArc 2017 pada Student Category.


Inas Raras Maheningtyas lahir di Jakarta, 3 Oktober 1994 merupakan ketua dari tim ini. Sejak lulus di akhir tahun 2016, Inas Raras bekerja di Adria Yurike Architects sebagai junior architect. Sejak kuliah Raras sangat aktif dan mendapatkan beberapa certification dan accreditation antara lain Top 100 Candidate for Djarum Foundation Scholarship Selection, meraih sertifikasi completing program requirement of Autocad2012 Certified Associate, meraih beasiswa untuk Excellent Academic Achievement Scholarship Program, dan pada oktober 2017 lalu menjadi 2ND Winner of Propan “Restoran Nusantara” Design Competition Destinasi Morotai yang diadakan oleh Kemenpar.

Asmita Puspasari, lahir pada tanggal 17 Juni 1994, saat ini bekerja sebagai Arsitek Junior di PT. Urbane Indonesia. Sebelum bekerja, Asmita pernah menjalani magang di beberapa tempat antara lain Luwist Space (2015) dan Akanoma Studio (2016). Selain itu Asmita juga aktif menjalani hobinya yaitu videografi dengan menjadi Story Director di Bandung Bicycle Club sejak 2015 hingga saat ini. Asmita juga sering mengikuti beberapa kompetisi arsitektur dan menjadi top 5 Finalist Mortar Utama Tropical House Competition dan top 25 Finalist OISTAT Theatre Architecture Competition.

M. Ridho Kharisma Putra, kelahiran Surabaya, 13 Januari 1995, lulus kuliah dengan predikat cum-laude pada tahun 2017. Ridho pernah mengikuti beberapa kompetisi arsitektur dan menjadi top 10 Finalist Rumah Intaran Wooden House Design Competition 2013. Ridho juga pernah mengikuti program Open Studio oleh Ara Studio tentang Analyzing Urban Context of Surabaya Old City dan pernah magang di konsultan arsitektur Mamostudio. Saat ini Ridho sedang menjalani magang di divisi Urban Design di PDW dan mengerjakan proyek freelance bersama Fadhil.

Bimo Wicaksana, lahir di Semarang pada 1 April 1995, lulus kuliah pada tahun 2017 dan saat ini bekerja sebagai Junior Urban Designer di PDW di Jakarta. Bimo yang mempunyai hobi di dunia desain grafis, fotografi, dan videografi, pernah magang di Budji + Royal Architecture + Design Filipina pada divisi arsitektur dan CPG Consultan Pte Ltd Singapura pada divisi urban planning. Bimo juga pernah mengikuti beberapa sayembara arsitektur dan menjadi top 12 Finalist Rumah Intaran Wooden House Design Competition 2013, Top 15 Finalist Escape House Design Competition by Wismakharman Expo 2016, dan top 5 Finalist Provident Residential Mid End House Design Competition.


Fadhil Hafizh Sadewo, lahir di Surabaya, 27 Februari 1994, lulus dengan predikat cum-laude pada tahun 2017 dan melanjutkan kerja sebagai Arsitek Junior di Design Alliance Workshop (DAW) di Jakarta. Pada masa kuliah, Fadhil mendapatkan prestasi sebagai Most Favorite Final Project Architecture ITB. Fadhil pernah mengikuti beberapa kompetisi arsitektur dan saat ini mengerjakan proyek freelance bersama Ridho.