Showing posts with label AUB3 Closing The First Year. Show all posts
Showing posts with label AUB3 Closing The First Year. Show all posts

Tuesday, April 12, 2011

Post Event Release Architects Under Big 3 -Closing The First Year-

Memasuki edisi ke-12 di bulan April menjelang tutup tahun Architects Under Big 3 (AUB3) serangkaian kegiatan yang lain dari biasanya diadakan, diantaranya: Sketch and Architectural Model Exhibition, Architectural Workshop “Dimanakah Batas Bali?” dan ditutup oleh Talkshow “Arsitektur untuk (Si)apa?”.

Sketch and Architectural Model Exhibition

Salah satu audiens memilih poster AUB3 favoritnya
Sketch and Architectural Model Exhibition merupakan pameran berkurasi yang diikuti oleh 12 orang arsitek muda di bawah 30 tahun. Eko Prawoto, Ketut Rana Wiarcha dan Popo Danes bertindak sebagai kurator pameran. Dalam karya-karya yang ditampilkan, terlihat perspektif dan sikap kritis arsitek muda mengenai arsitektur yang hadir atas dasar kegelisahan mereka terhadap isu dan wacana kritis arsitektur yang sedang terjadi, walaupun masih dalam tahap rintisan.

Sunday, April 10, 2011

"Arsitektur untuk (Si)apa?" - Talkshow


Talkshow

“Arsitektur Untuk (Si)apa?”
Pembicara: Putu Edy Semara & Yu Sing

Minggu, 10 April 2011
Danes Art Veranda, Denpasar, Bali
19.00 – 21.00 WITA
-free admission-

Monday, March 28, 2011

Architects Under Big 3 -Closing The First Year-


ARCHITECTS UNDER BIG 3
-Closing The First Year-

“Berarsitektur: Dimanakah Kita?”

Menjadi arsitek muda berusia di bawah 30 tahun di era ini adalah tidak mudah, dimana pada usia ini mereka ada pada fase yang akan menentukan arah dan tujuan dalam proses berarsitekturnya. Selain itu, era ini adalah saat dimana fase para arsitek muda perlu menentukan pola-pola perubahan.

Press Release Architects Under Big 3 -Closing The First Year-

PRESS RELEASE

Architects Under Big 3 –Closing The First Year-
“Berarsitektur: Dimanakah Kita?”


Menjadi arsitek muda berusia di bawah 30 tahun di era ini adalah tidak mudah, dimana pada usia ini mereka ada pada fase yang akan menentukan arah dan tujuan dalam proses berarsitekturnya. Selain itu, era ini adalah saat dimana fase para arsitek muda perlu menentukan pola-pola perubahan. Dalam konteks proses berarsitektur, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di benak para arsitek muda yang baru memulai proses ini. Akan menjadi arsitek seperti apa? akan fokus pada jalur berarsitektur macam apa? Sejauh mana proses berarsitektur ini akan memberi manfaat? dan masih banyak lagi.

Saturday, March 12, 2011

Architects Under Big 3 -Closing The First Year- Architecture Workshop


Architecture Workshop
"Dimanakah Batas Bali?"
Pemateri: Adi Purnomo

Sabtu, 2 April 2011
pukul 08:00 - 17:00 WITA
Danes Art Veranda
Jl. Hayam Wuruk No. 159 Denpasar

Peserta terbatas

Syarat peserta:

Tuesday, March 8, 2011

Peserta Sketch and Architectural Model Exhibition

1. Adi Wiwid
2. Andika Priya Utama
3. Bagus Samsu
4. Dany Cahyono
5. Errik Irwan Wibowo
6. I Putu Adhi Prihandana
7. Irwan Suhendra
8. Mohammad Raditya
9. Ricky Sandra
10. Rizki Alfitasari
11. Robby Tresna Adiputra
12. Rudy Hermanto

Selamat kepada para peserta, kelengkapan karya dalam bentuk digital mohon diserahkan selambatnya tanggal 14 Maret 2011 dan karya terpilih dikumpulkan segera dan selambatnya satu (1) minggu sebelum hari pembukaan pameran.

Keterangan lebih lengkap dapat dilihat di: http://bit.ly/hxioTw

Thursday, February 10, 2011

[CALLING FOR SUBMISSION] Architects Under Big 3 -Closing The First Year- : Sketch and Architectural Model Exhibition



Pengantar
oleh Eko Prawoto

Globalisasi yang semakin intens ini merupakan suatu keniscayaan. Dunia menjadi semakin terbuka dan seolah jarak menjadi semakin sirna. Pola hidup yang semakin mendorong budaya konsumtif sebagai akibat nyata dari pementingan dan kepentingan pemilik kapital agaknya juga semakin meluas. Bahkan nyaris menjadi satu-satunya wacana tanpa pernah memberikan ruang untuk membersitkan adanya kemungkinan lain .

Bearsitekturpun agaknya juga masuk dalam pusaran permainan kekuatan kapital ini. Arsitektur berayun dari tren yang satu ke tren yang lain sebagai akibat dari logika kepentingan dan pementingan pasar. Arsitektur kemudian hadir dengan tereduksi menjadi obyek permainan estetika yang cenderung hedonistic, berawal dan bermuara pada dirinya sendiri,terpisah dan terisolasi dari dunia nyata sekitarnya. Arsitektur kemudian tampil menjadi komoditas yang sekedar menjajakan estetisasi sensasi visual. Secara bahasa arsitekturpun terjadi ‘keseragaman bahasa’ akibat meluasnya penggunaan software komputer yang telah menjadi platform produksi .