Friday, April 18, 2014

Architects Under Big 3 - Closing The 4th Year : Architecture Field Trip



Architecture Field Trip
“Journey to the North”

Pura Meduwe Karang - Desa Kubu Tambahan
Pura Beji - Sansit
Kota Tua - Singaraja

Saturday, April 26, 2014
Start from 06.00 am
Meet at Danes Art Veranda
Jl. Hayam Wuruk 159 Denpasar

Limited places for serious participant only
For young architects student / professional under 35yo
send your biodata before Tuesday, April 22, 2014
No admission fee
Lunch and snack provided

The selected participant will announced at Thursday, April 23, 2014


Keagungan karya seni dan budaya yang lahir dari kreativitas tanpa batas banyak kita temukan dalam keunikan budaya dan agama di Bali, keagungan karya seni ini banyak tercermin pada bangunan suci (Pura) di bali, dimana pada setiap Pura pasti kita temukan lekuk detail simbol simbol yang memiliki makna spiritual tertentu, di bali, terutama daerah Bali Utara setiap daerah memiliki gaya ukiran tersendiri yang kental dengan Siwa Budha dengan aksen Cina.

Daerah Bali Utara memiliki potensi wisata yang melimpah, tidak hanya destinasi wisata, Bali Utara juga memiliki beragam keunikan budaya yang patut di ketahui keberadaannya. Dalam field trip kali ini, kita akan menjelajahi keunikan budaya Bali Utara melalui pura dan kota tua di Singaraja, seperti Pura Meduwe Karang dan Pura Beji. 

Berikut penjelasan mengenai destinasi kita pada field trip kali ini, untuk memberikan gambaran akan keindahan dan keunikan tempat yang akan kita tuju.

Pura Meduwe Karang

Meduwe Karang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai pemilik tanah. Sesuai namanya Pura Meduwe Karang memiliki ikatan spritual yang  kuat dengan warga Desa Kubutambahan  baik secara umum Kabupaten Buleleng dan Bali yang bemata pencaharian mengolah tanah. Di Pura ini warga memohon kesuburan tanah untuk hasil panen yang melimpah. Terlihat saat beberapa upacara seperti upacara nunas prani sebagai upacara persembahan yang tulus kepada leluhur para warga  mempersembahkan bibit palawija, bibit tersebut dijadikan semacam spirit untuk ditanam di wilayah perkebunan mereka. 

Secara fisik, Pura Meduwe Karang juga menunjukkan ciri khas sebagai pura yang bukan sekadar sebagai pemilik tanah, namun juga sebagai pura yang memberi penghargaan dan pengertian tentang betapa pentingnya membela atau memelihara tanah. Di area pura itu terdapat Patung Kumbakarna yang direbut pasukan kera. Sesuai cerita dalam kitab Ramayana, Kumbakarna rela berperang melawan pasukan kera bukan untuk membela kakaknya, Rahwana. Namun, ia berperang untuk membela tanah airnya, Alengka. Selain itu, di sekeliling pura itu juga berjejer patung dengan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita Ramayana. Selain memiliki makna perjuangan terhadap tanah,patung yang berjejer itu memiliki cita rasa seni tinggi dan unik. Keunikan lain di pura itu juga tampak dari ukiran-ukirannya

Hasil studi dan penelitian sejarah Pura-Pura di Bali tahun 1981/1982 yang dilakukan Pemda Bali dan Institut Hindhu Dharma (IHD) Denpasar, Pura Maduwe Karang dibangun pada abad ke-19 Masehi, tepatnya pada tahun 1890. Pura itu dibangun oleh warga yang berasal dari Desa Bulian, sebuah Desa Bali Kuno, yang memutuskan untuk menetap dan mengolah tanah perkebunan di Desa Kubutambahan.

Pura Beji - Sangsit
Pura Beji yang terletak di desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng ini punya keunikan tersendiri. Pura ini memiliki gugus-gugus masa bangunan suci yang sangat masif dan syarat dengan ukiran khas gaya Buleleng. Hampir semua bagian pura dipenuhi ukiran. Keharmonisan,keindahan dan kesakralan Pura Beji tidak terlepas dari Trimandala Bangunan Fisik, ornament yang ditampilakn yang merupakan karya para Undagi Maranggi dan Sangging Maranggi Bali bagian utara, yang tidak ditemukan di Bali bagian selatan. Dikisahkan pada zaman Waturenggong, wilayah Buleleng timur dianggap daerah yang tidak patut dihuni. Bahkan ketika itu menjadi tempat pembuangan, termasuk tempat pengasingan Ki Anglurah Panji Sakti. Namun belum ada data pasti, kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Terlepas dari itu lingkungan Pura Beji yang dikenal sebagai pura subak untuk desa pakraman Sangsit ini dikatakan sebagai lingkungan pura untuk memuja Dewi Sri – dewi yang diyakini berhubungan dengan bidang pertanian, menciptakan padi sebagai bahan makanan pokok, dan pemberi kemakmuran.

Ihwal itu rupanya berhubungan dengan bentuk ragam hias yang dimunculkan pada segenap bagian bangunan suci Pura Beji. Motif bunga atau tetumbuhan rambat membungkus gugus-gugus bangunan atau palinggih yang ada di situ. Di awal dari candi bentar, kori agung, hingga seluruh bangunan pemujaan, sarat ukuran motif bunga berciri khas style Buleleng: cukilan lebar, dangkal tapi runcing.

Kota Tua - Singaraja
Pada abad ke-17 dan abad ke-18 Singaraja merupakan pusat kerajaan Buleleng, dulu ibukota kerajaan berada di Sukasada. Pada saat itu I Gusti Anglurah Panji Sakti berpikir agar istana berkedudukan di tempat yang strategis, akhirnya dipilihlah kota Singaraja. Nama kota ini diambil dari kewibawaan sang raja I Gusti Anglurah Panji Sakti yang sangat berwibawa dan sakti layaknya seekor singa. Pada tahun 1846 bangsa Belanda menjajah bagian Bali utara, Kemudian Singaraja sempat menjadi ibu kota Kepulauan Sunda Kecil dan ibu kota Bali sampai tahun 1958.

Beberapa objek kota tua tersebut ini antara lain seperti, Pelabuhan Buleleng, Gedong Kertya, dan Museum Daerah Singaraja. Kita akan berziarah singkat di Singaraja mengetahui perjalanan terbentuknya kota ini dari waktu ke waktu.

No comments:

Post a Comment